}
MEMANG SEBUAH PERPISAHAN KADANG MELAHIRKAN DUKA DAN KEPILUAN, AKIBAT PROSES KEBERSAMAAN DALAM KEAKRABAN, NAMUN SEMUA INI HARUS KITA TERIMA SEBAGAI AKTIFITAS KEHIDUPAN DALAM KENISCAYAAN, YANG TERPENTING BAGI KITA SEMUA, BAGAIMANA KITA MENEMUI MASA YANG AKAN DATANG DENGAN HAL YANG LEBIH BERMAKNA DAN BERGUNA, KARENA SESUNGGUHNYA KITA BERJALAN DALAM TIGA DIMENSI KEHIDUPAN, MASA LALU SEBAGAI PENGALAMAN DAN KENANGAN, BILAMANA MASA LALU ITU BURAM DAN SURAM, MAKA HENDAKLAH KITA RENOVASI DENGAN KEBAIKAN DAN PERBAIKAN DIRI, MASA SEKARANG SEBAGAI REALITAS DAN KENYATAAN, BILAMANA AKTIVITAS KITA SEKARANG MEMBERI MASLAHAT KEPADA SEKITARNYA, HARUSLAH KITA PERTAHANKLAN DAN TINGKATKAN KUALITAS SERTA KUANTITASNYA. DAN MASA AKAN DATANG SEBAGAI HARAPAN SEKALIGUS TANTANGAN, JANGAN ADA GORESAN DUKA DAN PUTUS ASA DALAM KITA MENGHADAPI DAN MENATAPNYA

Jumat, 29 Oktober 2010

APAKAH WANITA ITU JAHAT DALAM SEGALANYA?

 (Kumpulan Fatwa Syekh Dr. Yusuf Al Qardhawi)
Pertanyaan:
Dalam buku Nahjul Balaghah karangan Amirul-Mukminin Ali  bin Abi Thalib r.a terdapat suatu keterangan:
"Wanita itu jahat dalam segalanya. Dan yang paling jahat dari dirinya ialah kita tidak dapat terlepas dari padanya."
Apakah  arti yang sebenarnya (maksud) dari kalimat tersebut? Apakah  hal  itu  sesuai  dengan  pandangan  Islam  terhadap wanita? Saya mohon penjelasannya. Terima kasih.
 
Jawab:

Ada dua hal yang nyata kebenarannya, tetapi harus dijelaskan lebih dahulu, yaitu:

Pertama,   yang   menjadi   pegangan   atau    dasar    dari masalah-masalah agama ialah firman Allah swt. dan sabda Nabi saw, selain dari dua ini, setiap  orang  kata-katanya  boleh diambil  dan  ditinggalkan.  Maka,  Al-Qur'an dan As-Sunnah, kedua-duanya adalah sumber yang kuat dan benar.

Kedua, sebagaimana telah  diketahui  oleh  para  analis  dan cendekiawan  Muslim,  bahwa semua tulisan yang ada pada buku tersebut  di  atas  (Nahjul  Balaghah),  baik  yang   berupa dalil-dalil   atau  alasan-alasan  yang  dikemukakan,  tidak semuanya tepat. Diantara hal-hal  yang  ada  pada  buku  itu ialah  tidak menggambarkan masa maupun pikiran serta cara di zaman Ali r.a.

Oleh sebab itu, tidak dapat dijadikan dalil dan tidak  dapat dianggap  benar, karena semua kata-kata dalam buku itu tidak ditulis oleh Al-Imam Ali r.a.

Didalam penetapan ilmu agama, setiap ucapan  atau  kata-kata dari  seseorang,  tidak  dapat  dibenarkan, kecuali disertai dalil  yang  shahih  dan  bersambung,   yang   bersih   dari kekurangan atau aib dan kelemahan kalimatnya.

Maka,  kata-kata  itu tidak dapat disebut sebagai ucapan Ali r.a. karena tidak bersambung dan tidak mempunyai sanad  yang shahih.  Sekalipun  kata-kata  tersebut mempunyai sanad yang shahih, bersambung, riwayatnya adil dan  benar,  maka  wajib ditolak,  karena hal itu bertentangan dengan dalil-dalil dan hukum  Islam.  Alasan  ini  terpakai  di  dalam  segala  hal (kata-kata) atau fatwa, walaupun sanadnya seterang matahari.

Mustahil  bagi  Al-Imam  Ali r.a. mengatakan hal itu, dimana beliau sering  membaca  ayat-ayat  Al-Qur'an,  di  antaranya adalah:

"Wahai sekalian manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang, yang kemudian darinya Allah lantas menciptakan istrinya, dari keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan wanita yang banyak ..." (Q.s.An-Nisa': 1)
    
 "Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan firman-Nya): 'Bahwa sesungguhnya Aku tiada mensia-siakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun wanita, (karena) sebagian darimu adalah keturunan dari sebagian yang lain ..." (Q.s. Ali Imran: 195).
    
 "Dan diantara tanda-tanda kekuasaan Allah ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Allah menjadikannya diantara kamu rasa kasih dan sayang ..." (Q.s. Ar-Ruum: 21).
 
Masih  banyak  lagi  di antara ayat-ayat suci Al-Qur'an yang mengangkat dan memuji derajat kaum  wanita,  disamping  kaum laki-laki. Sebagaimana Nabi saw. bersabda:

 "Termasuk tiga sumber kebahagiaan bagi laki-laki ialah wanita salehat, kediaman yang baik dan kendaraan yang baik pula." (H.r. Ahmad dengan sanad yang shahih).
    
"Di dunia ini mengandung kenikmatan, dan sebaik-baik kenikmatan itu adalah wanita yang salehat." (H.r. Imam Muslim, Nasa'i dan Ibnu Majah).
    
"Barangsiapa yang dikaruniai oleh Allah wanita yang salehat, maka dia telah dibantu dalam sebagian agamanya; maka bertakwalah pula kepada Allah dalam sisanya yang sebagian."

Banyak  lagi  hadis-hadis dari Nabi saw. yang memuji wanita; maka mustahil bahwa Ali r.a. berkata sebagaimana di atas.

Sifat wanita itu berbeda dengan sifat  laki-laki  dari  segi fitrah;  kedua-duanya  dapat  menerima  kebaikan, kejahatan, hidayat. kesesatan dan sebagainya.

Firman Allah swt. dalam Al-Qur'an,

 "Jiwa dan penyempurnaannya (ciptaannya); maka Allah mengilhamkan pada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya." (Q.s. Asy-Syams: 7-10)
 
Mengenai fitnah yang ada pada wanita disamping  fitnah  yang ada   pada   harta  dan  anak-anak,  dimana  hal  itu  telah diterangkan di dalam Al-Qur'an dan dianjurkan supaya  mereka waspada dan menjaga diri dari fitnah tersebut.

Dalam  sabda Rasulullah saxv. diterangkan mengenai fitnahnya kaum wanita, yaitu sebagai berikut,

 "Setelah aku tiada, tidak ada fitnah yang paling besar gangguannya bagi laki-laki daripada fitnahnya wanita." (H.r. Bukhari).

Arti dari hadis di atas menunjukkan bahwa wanita  itu  bukan jahat,  tetapi  mempunyai  pengaruh yang besar bagi manusia, yang dikhawatirkan lupa pada kewajibannya, lupa kepada Allah dan terhadap agama.

Selain  masalah  wanita, Al-Qur'an juga mengingatkan manusia mengenai fitnah yang disebabkan dari harta dan anak-anak.

Allah swt. berfirman dalam Al-Qur'an:

 "Sesungguhnya harta-harta dan anak-anakmu adalah fitnah (cobaan bagimu); dan pada sisi Allah-lah pahala yang besar." (Q.s. At-Taghaabun: 15)
    
"Hai orang-orang yang beriman!Janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikanmu mengingat kepada Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian' maka mereka termasuk orang-orang yang merugi." (Q.s. Al-Munaafiquun: 9).
 
Selain dari itu (wanita,  anak-anak  dan  harta  yang  dapat mendatangkan fitnah), harta juga sebagai sesuatu yang baik.

Firman Allah swt.:

"Allah menjadikan bagi kamu istri-istri dari jenismu sendiri dan menjadikan bagimu dan istri-istrimu itu, anak-anak dan cucu; dan memberimu rezeki dari harta yang baik-baik ..." (Q.s. An-Nahl: 72)
 
Oleh  karena  itu,  dianjurkannya  untuk waspada dari fitnah kaum wanita, fitnah  harta  dan  anak-anak,  hal  itu  bukan berarti  kesemuanya  bersifat  jahat,  tetapi  demi mencegah timbulnya fitnah yang dapat  melalaikan  kewajiban-kewajiban yang telah diperintahkan oleh Allah swt.

Allah   swt.  tidak  mungkin  menciptakan  suatu  kejahatan, kemudian dijadikannya sebagai suatu kebutuhan dan  keharusan bagi setiap makhluk-Nya.

Makna  yang  tersirat  dari suatu kejahatan itu adalah suatu bagian yang amat sensitif,  realitanya  menjadi  lazim  bagi kebaikan secara mutlak. Segala bentuk kebaikan dan kejahatan itu berada di tangan (kekuasaan) Allah swt.

Oleh  sebab  itu,  Allah  memberikan  bimbingan  bagi   kaum laki-laki  untuk menjaga dirinya dari bahaya dan fitnah yang dapat  disebabkan  dan  mudah   dipengaruhi   oleh   hal-hal tersebut.

Diwajibkanjuga   bagi   kaum   wanita,   agar   waspada  dan berhati-hati dalam menghadapi tipu muslihat yang  diupayakan oleh  musuh-musuh Islam untuk menjadikan kaum wanita sebagai sarana perusak budi pekerti, akhlak yang luhur dan  bernilai suci.

Wajib  bagi  para  wanita  Muslimat  kembali  pada kodratnya sebagai wanita yang saleh, wanita hakiki, istri salehat, dan sebagai ibu teladan bagi rumah tangga, agama dan negara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar